Pranatamangsa: Sebuah Budaya yang Terancam Musnah

September 8, 2008 - Leave a Response
Oleh: Sindhunata

Selama ini para petani, paling tidak di Jawa, mempunyai pelbagai cara dan sistem untuk akrab dengan iklim. Cara dan sistem itu sudah demikian lama berlaku, dan mendarahdaging dalam kehidupan petani Jawa. Bisa dikatakan, cara dan sistem mengakrabi dan menanggulangi kekuatan alam itu sudah menjadi semacam budaya. Salah satu cara dan sistem yang telah menjadi budaya tersebut adalah pranatamangsa.

Petani Jawa adalah bagian dari bangsa agraris di Indonesia, yang telah hidup dengan tradisi pertanian padi basah kurang lebih 2000 tahun lamanya. Para petani itu, terutama yang mendiami daerah-daerah bekas kerajaan-kerajaan Jawa, mengikuti suatu sistem penanggalan pertanian, yang disebut pranatamangsa.

Penanggalan tersebut mendasarkan diri pada tahun surya yang panjangnya 365 hari.Penanggalan yang telah diwarisi turun temurun ini konon dibakukan oleh Sri Susuhunan Paku Buawana VII di Surakarta, pada tanggal 22 Juni 1855 . Seperti ditulis oleh N. Daldjoeni, pembakuan tersebut dimaksudkan untuk sekadar menguatkan sistem penanggalan yang mengatur tata kerja kaum tani dalam mengikuti peredaran musim dari tahun ke tahun (Uraian berikut ini seluruhnya didasarkan pada tulisan Drs. N. Daldjoeni: Penanggalan Pertanian Jawa Pranatamangsa, terbitan Proyek Javanologi, Yogyakarta, tanpa tahun).

Dalam pembakuan tersebut, ahli perbintangan kraton memang cukup berjasa. Kendati demikian itu tidak berarti bahwa mereka telah menciptakan sesuatu yang baru. Sebab sesungguhnya, penanggalan itu sudah ada dalam hidup petani Jawa turun temurun. Bahkan sebelum kedatangan orang-orang Hindu, nenek moyang kita sudah akrab dengan peredaran bintang-bintang di langit yang mendasari pengetahuan tentang perulangan musim.

Pranatamangsa, arti harafiahnya adalah pengaturan musim. Agaknya, pemanfaatan pranatamangsa ini ikut menyumbang pada keberhasilan dan keagungan kerajaan-kerajaan Mataram Lama, Pajang dan Mataram Islam. Dengan pranatamangsa tersebut, orang pada zaman itu mempunyai pedoman yang jelas untuk bertani, berdagang, menjalankan pemerintahan dan keserdaduan.

Pranatamangsa ini mempunyai seluk beluk yang tak kalah rumitnya dengan penanggalan Mesir kuno, Cina, Maya dan Burma. Kata Daljoeni: “Di dalam pranatamangsa terdapat pertalian yang mengagumkan antara aspek-aspeknya yang bersifat kosmografis, bioklimatogis yang mendasari kehidupan sosial-ekonomi dan sosial-budaya masyarakat bertani di pedesaan. Sebagai keseluruhan pranatamangsa mencerminkan ontologi menurut konsepsi Jawa serta akhetip alam pikiran petani Jawa yang dilukiskan dengan berbagai lambang yang berupa watak-watak mangsa dalam peristilahan kosmologis yang mencerminkan harmoni antara manusia, kosmos dan realitas” (Ibid., hlm. 5-6).

Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.